Home » » CERPEN TES CINTA

CERPEN TES CINTA

Akhirnya aku kembali ke sofa usai mondar-mandir mengelilingi ruang tamu menunggu kabarnya. Dari semalam aku menunggu tapi sampai sekarang zonk. Aku benar-benar khawatir dan galau. Kemana dia ya? Tanda tanya besar memenuhi otak kecilku. Di bawah lamunanku dering teleponku menggugahku. Tanpa menunggu lama aku mengangkatnya.
“Halo sayang. Kamu ke mana aja sih?” tanyaku penuh kekhawatiran.
“Ciee.. Ngekhawatirin aku ya Mbak. Hahaha,”

Aku terkejut mendengar suaranya yang terdengar beda. Panggilannya pun juga berbeda. Ku teliti layar hpku dan ternyata bukan Dani yang menghubungiku.
“Eh kamu Firli, maaf ya, jadi malu,” ucapku terkekeh.
“Iya Mbak. Dimaafin kok, apa sih yang nggak buat kakak kelasku yang super cantik ini, hihihi,” sahutnya gemas. Aku makin tersipu.
“Eh kamu tumben telepon, ada apa?” tanyaku penasaran.
“Ah nggak jadi deh, Mbak Reni galau sih jadi ya akunya enggak enak,” jawabnya.
“Hih kamu.” sahutku ketus.

“Hehehe begini nih Mbak, kan Mbak tuh termasuk orang paling pinter nih ye kalau soal pelajaran ipa, mm boleh nih ya kalau aku minta dibantuin kerjain pr gitu. Hehehe,” ucapnya.
“Oh itu, boleh aja sih apalagi aku lagi jenuh bin banget, kamu ke sini aja ya?”
“Siap bos, gue capcus sekarang ya?” ia pun menutup teleponnya tanpa mengucap salam atau berbasa-basi. Emang kebiasaan itu orang, pikirku.

Setelah satu jam mobil honda jazz itu pun terparkir di rumahku. Dengan senyum sumringahnya ia melambaikan tangannya padaku. “Sudah siap nih gue ajar? Gue galak loh,” candaku. Ia tak berkata banyak hanya bahasa tubuhnya meledekku. Aku pun membantunya mengerjakan tugas rumahnya. Lumayanlah ia cukup menyenangkan sehingga galauku bisa sedikit teratasi. Dikit sih hehe.

“Mbak, galau ya?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Dikit,” jawabku datar.
“Kenapa?” tanyanya lagi.
“Hih.. Kamu pengen tahu aja,” candaku.
“Ya kan tanya doang, hehe,” jawabnya lagi.
“Iya sebenernya sih aku khawatir sama Dani Fir,” akhirnya aku curhat juga dengannya.
“Emang Kak Dani kenapa? Sakit gitu?” tanyanya lagi.
Aku menggidikkan kepala. “So?”

“Dari semalam dia nggak ada kabar Fir.. Kira-kira ke mana ya?” ceriwisku panjang lebar.
“Selingkuh kali, kasihan deh kakak,” ia tertawa cekikikan. Aku terkejut mendengar perkataannya.
“Apa sih kamu, makin bikin gue bete deh,” kataku geregetan.
“Hehehe maaf Mbak, canda kali ah, sensitif amat sama gue.” ia masih tertawa.
“Sebenernya tuh Kak Dani sama abangku lagi nyiapin skripsi buat presentasi besok, makanya dari semalem mereka tuh sibuk banget, sampe begadang tahu Mbak,” lanjutnya serius.
“Beneran Fir?” tanyaku penasaran. Ia mengangguk.

“Kok kamu nggak bilang dari tadi sih, iih kamu mah gitu sama gue,” kataku sambil manyun.
“Hehehe sebenernya sih sengaja Mbak, soalnya Kak Dani yang nyuruh haha,” ia cekikikan untuk kesekian kalinya.
“Hah, Dani?” aku pun makin tercengang. Tega banget sih sayang kamu sama aku. Aku pun menekuk mukaku.
“Udah dong Mbak jangan manyun mulu, aku nih yang enggak enak,” sepertinya dia merasa bersalah.
Aku pura-pura tak menanggapi omongannya. “Pliss dong Mbak, maafin gue dong,” kata-katanya makin memelas.

Aku pun menahan tawa dan ketahuan olehnya. “Ciee, kayaknya aku udah dimaafin nih, tengkiyu ya Mbak. Oh ya ada pesan lagi nih Mbak,” ungkapnya. Aku pun melotot dengan tajam.
“Eit jangan gitu juga mukanya. Serem amat,” bisa-bisanya dia bercanda saat aku lagi menunggu lanjutan kata-katanya. “Katanya, Reni sayang. Maafin aku ya, aku sengaja ngetes seberapa cinta kamu dan sayang kamu ke aku. Aku sayang kamu, nih aku dikirimin bbm,” ia menunjukkan ponselnya padaku. Aku pun tersenyum. Makasih sayang. “Aaah kenapa gue jadi obat nyamuk ya, ya udah aku pulang dulu ya Mbak cantik, bye-bye,” ia pun melambaikan tangannya dan memasuki kendaraan kesayangannya.

Malam hari usai presentasi dani menjemputku, mengajakku ke suatu tempat yang ia rahasiakan. Tak lupa ia meminta izin kedua orangtuaku. “Sayang kita mau ke mana sih?” tanyaku penasaran. “Sssst..” telunjuknya menyentuh bibirku. Ia pun tersenyum dan melajukan kemudinya. Aku pun terdiam. Ia menutup mataku dan mengajakku melangkah perlahan-lahan. Ia pun membuka mataku dan wow its surprising.

“Sayang, kamu mendekorasi ini buat aku?” tanyaku. Ia tak berkata apa-apa, namun tangannya membawa setangkai bunga mawar putih dan memberikanya padaku. Aku pun menerimanya tanpa ragu. Ia menggenggam kedua tanganku dan berkata, “Sayang, maaf kemarin aku sengaja ngetes kamu, awalnya aku sempet ragu karena sikapmu yang terlalu akrab sama temen cowokmu sampai aku menanyai Firli. Dan ia menyarankanku untuk mengetes kamu, dan kini aku makin yakin kalau kamu benar-benar mencintai aku. Dan ini semua buat kamu. Kamu nggak marah kan sayang?” matanya dan kata-katanya membuatku hanyut dalam suasana romantis.

“Sebenernya sih aku marah,” jawabku ketus. “Tapi… Kemarahanku terkalahkan oleh rasa sayang dan cintaku untukmu, aku nggak marah kok sayang, seneng malah karena kamu udah bener-bener percaya sama perasaanku. Jangan ulangi lagi ya sayang, aku cape harus menahan rindu trus karena kamu, hehehe,” kataku tersenyum.
“Tengkiyu sayang, mmm bolehkan aku memakaikan ini untukmu,” ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan ternyata cincin permata yang aku lihat tempo hari di salah satu toko mas seberang jalan dekat rumahku. Aku memang mengidam-ngidamkanya dari dulu.

“Kamu tahu dari mana aku suka sama cincin ini sayang?” tanyaku penasaran.
“Mama kamu yang ngasih tahu aku sayang,” aku terkejut dan ia membaca raut wajahku. “panjang ceritanya sayang, jadi gimana? Cape nih tanganku,” candanya padaku.
Aku mengangguk-angguk dan menyunggingkan bibirku. Terima kasih Dani, kamu membuatku bagaikan cinderella yang menemukan pangerannya. Makasih sayang. I love you, I love you mama yang udah kasih restu dan dukungannya buat hubungan kami.

Cerpen Karangan: Suryatin
Facebook: Tien Titien

0 komentar:

Posting Komentar


Diberdayakan oleh Blogger.