Home » , » CERPEN SASTRA CINTA ROMANTIS

CERPEN SASTRA CINTA ROMANTIS

Sobbat--CRG, kalian pasti suka cerita-cerita novel atau cerpen. Nah kali ini kita akan membahas sedikit tentang Cerpen atau cerita pendek sastra, itu lho cerpen cinta romantis sastra yang kalo membacanya perlu sedikit konsentrasi dan mengerutkan dahi untuk memahaminya. Aku sich suka juga cerpen sastra tapi yang tidak berat-berat amat, karena ada cerpen sastra yang cukup berat untuk dipahami, karena bahasanya sastra banget yang ditulis pengarangnya--penyairnya dengan bahasa bersayap dan simbolik yang jarang kita temui dalam bacaan populer umum.

Apa sich cerpen sastra itu, aku sebenarnya kurang paham juga pengertiaannya, jadi silakan sobat-ccrg cari sendiri ya di Google atau Wikipedia, pengertiannya pasti ada disana. Itung-itung nambah pengetahuan.

Nah..tidak bepanjang kata..entar makin binung..hihi..lebih baik kita langsung aja ya menyimak salah satu cerpen sastra cinta Romantis di bawah ini. 



INGAT MARINDA, AKU JADI HARU
Cerpen Oleh : Yetti A.K.A)

Aku mengenang kedua matanya. Merah basah untuk terakhir kali. Ia terliha kelam. Dan aku membacakannya, seperti luapan cinta yang lalu tawar.

* * *
     Ingat Marinda, aku jadi haru.
     Aku mengerti benar tentangnya. Ia pernah memiliki hidup yang terlalu rimbun. Penuh semangat. Bahagia.
     Bahagia. Ah, setidaknya begitu yang terpancar dari bahasa wajahnya. Siapa pun yang pernah melihatnya akan mengatakan ia perempuan terbahagia dengan garis wajah yang sering kali sumringah dan lesung pipit di pipi yang merona. Juga tentu sepasang mata bening yang dalam telaga.
     Suatu ketika ia berkata, "Hidup tidak kurang dari permainan perasaan. Sementara aku sangat terbiasa mempermainkan banyak hal."
    "Apa kebahagiaan juga permainan?"
    "Tidak selalu untuk orang lain."
    "Untuk mu?"
    "Barangkali."
    "Apa karena kau cantik?"
    "Mungkin saja. Siapa yang tidak terpanah dengan tipu kecantikan yang menyambar secara mendadak."
    Marinda benar, kukira. Sebab hampir tiap hari ia membuat pesona yang berbeda, dengan sentakan yang tiba-tiba. Dan aku tahu telah berapa cinta yang bersimpuh di sana.
    "Cinta. Aku lebih percaya kalua itu hanya kegilaan," katanya Ia melepas ikatan pada rambutnya yang tebal, sedang matanya tak melepasku.
    "Jangan bermain seperti itu nanti terbakar!"
    "Aku ingin sekali merasakan api itu," ia menantang. "Mungkin saja bisa membuatku menikmati sensasi lain. Selama ini hidupku datar. Membosankan."
    "Kau tidak akan seberani itu, saat kau berhadapan dengan kenyataan."
    "Kau mulai meragukan aku."
    "Kau memandang mudah segala hal."
    "Kau terlalu serius," ia tertawa. "O ya, menurut apa aku harus menangis saat sedih. Harus berteriak saat luka. Tidakah cara itu hanya membuat malu. Aku bisa mempermalukan diriku sendiri."
    Lalu memang beberapa kali aku pernah melihatnya menggeliat sakit di bawah tumpukan pengkhianatan yang bersesakan.
    Beberapa lamanya ia tak melakukan apa-apa selain berkurung diri di kamar. ia membenci dunia luar yang tampak gelap, menakutkan.
    Ia ingin lari. Membuat rumah kecil yang damai dalam hatinya. Di rumah itu, Marinda menyembunyikan dirinya. Membuang jauh segala sesuatu yang mengganjal perasaannya dengan menghabiskan berbungkus-bungkus rokok.
    Aku marah, merasa kecewa, bila ia begitu. Marinda terlalu manis untuk terluka dan menyerah.
    Tapi perempuan keras kepala sepertinya, hanya berkata, "Aku baik-baik saja."
    "Itu tidak benar. Kau bohong."
    "Ya. Baiklah. Aku sakit. Tapi itu bagian dari risiko. Aku tidak apa-apa. Rianti. Kau jangan keterlaluan memojokkanku." Aku berhenti marah, berhenti kecewa.
    Setelah itu aku dicubit sepi dan membiarkan persahabatan demikian dingin. Sangat panjang. Hingga ada rindu yang aneh.
    Maka ia mengalah, meminta, "Rianti, aku rindu. Kapan kau datang lagi padaku dengan sebilah pedang."

* * *

    Ingat Marinda, aku jadi haru.
    Sejak kecil, ia telah membenamkan hidupnya pada dongeng lelaki pematung kayu. Ia merasa sangat yakin, lelali itu meninggalkan sesuatu yang putih dalam jiwanya. Cinta. Hingga, ia akan tampak berseri saat harus menceritakan si pematung kayu berkali-kali. Lelaki yang tampan, menurutnya. Hal itu ia buktikan dengan memperlihatkan selembar gambar kusam yang tersimpan di dompetnya. Bila malam, ia senang menempelkan gambar itu di dinding kamar hingga ia bisa menatap lama pada sosok lelaki tampan sebelum matanya mengatup pelan. Saat pagi, ia menyimpan kembali dalam dompet dengan paras muka sedih. Seakan-akan ia tengah melepas suatu kepergian.
    Ia bercerita tentang lelaki dalam gambar itu.
    Lelaki itu cinta pertama Marind, saat ia baru duduk di kelas tiga sekolah dasar. Aku lebih percaya kalau ia membuat dan berusaha membawaku dalam permainan yang tidak lucu. Api Marinda membuatku tersentak. Dengan mimik yang sungguh-sungguh ia mengaku laki-laki dua puluh lima tahun di atasnya itu menciumnya pertama kali di balik gedung sekolah dan menghadiahinya boneka kayu bermata elok.
    Ia merasa jatuh cinta setelah kejadian yang tak terduga itu. Secara sembunyi-sembunyi ia sering bertemu lelaki pematung kayu. Terkadang lelaki itu membuatnya jadi boneka yang kaku di sudut sebuah bangunan atau dibalik pohon-pohon. Dan ia senang sekali. Apalagi lelaki pematung kayu itu berjanji akan membawa jauh dari perempuan bermulut lebar, ibunya. Marinda tidak menyukai perempuan itu yang hampir setiap pagi berteriak keras dan menyuruhnya melakukan perkerjaan rumah yang menumpuk. Marinda ingin sesekali dapat ke sekolah bersama-sama temannya sambil bernyanyi-nyanyi sepanjang jalan.
    Hanya saja, perpisahan terjadi dan Marinda tidak pernah dibawa pergi, setelah pertengkaran si pematung kayu dengan perempuan bermulut lebar (Ibu Marinda tidak sengaja melihat pematung kayu membawa Marinda ke sebuah bangunan tua). 
    Lelaki itu meninggalkannya. Marinda meraung seharian. Ia bersumpah, akan benar-benar berhenti mencintai ibunya. Tetapi lelaki itu tidak pernah kembali.
    Marinda retak. Ia salah mengira, cinta selalu putih.
    Waktu pun bergerak dan menyeret Marinda dalam rasa haus pada cinta. Berkali-kali ia bisa jatu cinta. Tetapi sesaat. Sebaba iaa tidak sanggup mengkhianati cintanya pada lelaki pematung kayu. Ia dihantui oleh perasaan cinta kanak-kanak yang lugu dan polos. 
    Karena itu baginya, kebahagiaan tidak lebih dari permainan sedangkan cinta adalah kegilaan.

* * * 

    Ingat Marinda, aku jadi haru.
    Banyak sekali aku menyaksikan ia memenggal kebahagiaannya untuk sekian permainan cinta. Kusaksikan Marinda terus berlarian di atas cinta semu dan kegembiraan palsu.
    Sampai, pernah satu kali dari sejumlah permainannya, ia sungguh-sungguh jatuh cinta. Bagaimana ketika itu aku memergokinya tidur-tiduran seharian. Ia menyembunyikan kegelisahaannya dengan membenamkan wajah di sebuah bantal gambar boneka.
    "Kau jatuh cinta" aku menebak
    Tertawa pecah, "Kau gegabah menyimpulkan sesuatu."
    "Aku melihatnya di seluruh tubuhmu. Di setiap pori kulitmu."
    "Kau membuat gugup" ia mengangkat mukanya yang pucat.
    "jadi benar."
    "Tidak seperti yang kau pikirkan." Ia mengelurkan sebatang rokok dan membakarnya.
    "Siapa dia."
    "Sudah, Rianti. Kau jangan menggodaku."
    Marinda meninggalkanku dengan langkah terburu-buru. Bila gelisah, selain tempat tidur, ia juga menyukai halaman samping yang penuh pohon bambu. Bisa berjam-jam ia duduk di sana. Aku membiarkannya.
    Hingga pada kesempatan lain, saat malam hari dan bulan hampir purnama, ia berbisik pelan sekali. "Jika matanya serasa menembus dalam perasaanku, apa aku jatuh cinta?"
    "Tidak salah lagi. Benar. Kau jatuh cinta," aku bersorak. Beberapa bintang tampak menari dan berjatuhan di mataku. Aku merasa sedang merayakan sesuatu yang luar biasa.
    Ia tersenyum kecil, Sedikit saja. Berkali-kali ia menarik nafas berat.
    Kukatakan. "Kau harus menjaga perasaan itu."
    Ia menggenggam tanganku erat berkata, "Apa mungkin aku masih bisa jatuh cinta? Ini diluar dugaanku."
    Aku merasa ia amat tertekan.

* * *

    Ingat Marinda, aku jadi haru.
    Sebab, suatu hari tanpa disangka, ia mengabarkan padaku akan menikah dengan lelaki lain, bukan seorang yang ia cintai. Sambil menahan kesedihannya, ia bercerita bahwa hidupnya seudah ditakdirkan bertemu permainan demi permainan. Lelaki yang ia cintai telah meninggalkannya dan menikah dengan perempuan lain yang juga tanpa cinta. Dan ia pun dihadapkan pada kenyataan harus menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak membuatnya bisa tersenyum.
    Aku mengihiburnya. Kuceritakan pula tentang ayah dan ibuku yang walanya menikah tanpa jatuh cinta lebih dulu. Namun setelah hidup bersama, semua mengalir saja. Ia tertawa sinis, katanya ibuku mungkin perempuan yang bisa mengalah dan sabar, sementara ia merasa bukan bagian dari itu. Sajak kecil, ia telah belajar jadi pemberontak. Aku kita ia benar. Lalu kusarankan padanya untuk membatalkan pernikahannya.
    Ia diam. Seolah-olah ada beban yang berat.
    "Kau masih bisa memilih untuk tidak menikah dengannya" ujarku.
    "Kukira tidak. Aku benci ibuku. Tapi aku tidak bisa mempermalukannya."
    "Kau bisa membicarakannya baik-baik."
    "Tidak semudah yang kau pikirkan."
    "Kau tidak akan bahagia jika kau memaksakan diri."
    "Aku tidak berani."
    "Aku tidak mengenalmu yang seperti ini."
    "Aku tidak sanggup melakukan apa-apa."
    Aku menemukan ia yang benar-benar berbeda. Kami diam dalam waktu yang serasa terpotong.
    Dimataku Marinda sangat menyedihkan.
    Semalaman, ia tidak bisa tidur. Ia mengajakku menikmati malam perpisahan itu dengan bercerita kembali tentang cita-cita kami yang ingin jadi penyair. (Hahahaha! Kami tertawa keras ketika mengikrarkan janji itu dengan wajah sungguh merah, sebab kami ingin menggenggam dunia). Dan malam itu, kami juga kembali tertawa dengan sudut mata tergenang-genang butiran air mata. Marinda menarik janjinya dan melupakan tentang cita-cita itu. ia mengaku tidak akan punya banyak waktu untuk hal lain setelah pernikahannya Ia akan disibukan oleh urusan rumah tangga.
    Aku merasa sangat sendiri.
    Kuantar Marinda menuju pernikahannya itu. Wajahnya memancarkan kebahagiaan yang menusukku. Sedih rasanya dihadapkan pada kenyataan harus melepas seorang teman yang hari-harinya hampir menjadi miliku dan hari-hariku menjadi milikmu.

* * *

    Ingat Marinda, aku jadi haru.
    Belum enam bulan ia menikah, aku mendapat kabar yang memilukan. Ia tidak bahagia dan ingin pergi dari lelaki itu dengan membawa jabang bayi dalam perutnya yang masih berumur tiga bulan. Ia benar-benar ingin berpisah dari lelaku itu karena menurutnya ia tidak sanggup lagi untuk belajar mencintai.
    "Sungguh. Terlalu banyak yang salah dalam hidupku," katanya lewat telepon.
    "Kau harus sabar. jangan mengambil keputusan apa-apa selagi kau marah," aku mengingatkannya.
    "Tapi aku sakit, Rianti. Sakit sekali."
    "Kau akan melewati semua itu dengan baik-baik saja." Aku membujuknya.
    Ia menutup telepon mendadak. Aku mengerti, ia kecewa dengan sikapku. Tentunya ia mengharapkan aku membelanya dan memberinya jalan untuk meninggalkan lelaki itu.
    Sejak itu, ia jarang menghubungiku.
    Hingga suatu ketika, aku dikejutkan lagi oleh kedatangannya yang tiba-tiba. Ia menangis dan menunjukan hatinya yang pecah. 
    Aku memeluknya. Kubisikan, aku akan selalu ada untuknya. Kuminta ia tinggal saja bersamaku untuk sementara, sebelum memutuskan benar-benar berpisah dari lelaki yang telah menanam cinta di tubuhnya.
    Ia masih terisak. Ah. Marinda manis yang malang. Aku selalu membayangkan perempuan manis akan menemukan keberuntungan yang baik dariku.
    Tapi kini, lihatlah, di matanya yang basah tumbuh sebatang pohon, kering tak berdaun dan akar-akar menjalar menembus kelopak mata. Pohon itu dalam sekejap menyambar Marinda.
    Aku berteriak, tertahan. Marinda tertelan.
    Ingat Marinda, aku jadi haru.
    Sejak ia ditelan pohon, aku sering merasa ia manatapku dengan mata boneka yang bulat. Mata yang ingin menyelam dalam, dikesedihan tanpa tepi.

* S e l e s a i *

Padang, 2005 (Dari: Media Indonesia, 19 Juni 2005).


0 komentar:

Posting Komentar


Diberdayakan oleh Blogger.