PATAH HATI

Tidak perduli siapa yang memutuskan hubungan cinta, luka itu tetap ada. Meskipun aku yang mutusin kamu, aku tetap terluka dan patah hati. Perjalanan cinta kita memang tidak selancar yang kita kira. Kesetiaan mu tidak setinggi gunung Himalaya, hanya elang yang menukik mematuk ikan di danau tenang. Dan danau itu dekat di sisi hutanku sendiri. Dia, yang juga mencintai mu telah membuat mu lupa bahwa ada aku yang harusnya menjadi cinta sejati mu. Kamu lupa bahwa aku adalah cinta mu yang harusnya dapat memiliki hari-hari di masa depan kita yang seharusnya indah.    
Terang telah sirna di telan kegelapan, luka dan kepedihan hati menusuk-nusuk dijantung ini, ingin rasanya aku mati, membawa derita ini, meninggalkan segenap lara yang menyiksa jiwa. Ingin rasanya aku menghilang dari dunia ini, seandainya dalam sekejap aku musnah pergi diterpa angin malam yang membawa jasad dan jiwa ku jauh ke batas cakrawala. Jauh dari kenangan kita,... jauh dari bayangan mu,.... jauh dari nama mu,... jauh dari semua tentang kamu.

Saat terakhir nafas ini, biarkan aku mengucapkan selamat tinggal pada mu dari kejauhan, ijinkan aku mengucapkan terimakasih atas segala yang telah kau berikan selama ini. Ijinkan aku menulis namamu dengan tinta air mataku di hati ini, untuk ku bawa pergi sebagai mutiara yang abadi di jiwaku.

Selamat tinggal kekasih, semoga kita bertemu lagi dalam kehidupan lain yang lebih punya arti.

0 komentar:

Posting Komentar


Diberdayakan oleh Blogger.