Home » » PUISI DAN SAJAK-SAJAK CINTA ROMANTIS

PUISI DAN SAJAK-SAJAK CINTA ROMANTIS

HARI-HARI INDAH BERSAMAMU
(Alin MS)

Aku tulis sajak ini untuk mengenangmu di hatiku
bersama hari-hari yang pernah kita lalui
semakin dalam cinta dan kasih sayang yang kita miliki
selama ini.

Duhai kekasih hati,
dari jendela kamar ini aku lihat rembulan tersenyum
begitu indah menawarkan pesonanya setiap malam
tapi, dihati hati ini pesonamu tiada pernah putus
selalu hadir setiap detik, membuai ku dalam asmara
terindah.

Takan terlupakan,
takan tergantikan,
hari-hari yang indah bersamamu
seumur hidupku hingga aku mati, selamanya...
kenangan itu akan melekat di hatiku
yang paling dalam...bersamamu...Pujaanku.


KERINDUAN
(Yudhistira)

Resah telah menjadi arus
menggerakan segenap suara cinta
dari kampung ke kampung. Dari Kota ke kota
dari hati massa dan kekasih

(Masih adakah telinga yang tak mendengar?)

Suara itu membawa lagu yang sudah kita kenal
Dinyanyikan mulut demi mulut
Yang terbuka di tengah kekosongan dan kesepian
Di tengah kerinduan yang besar

(Apakah kegelisahan itu tetap saja menikam
Padahal lagu, sudah dinyanyikan bersama-sama?)
Kita berdua dalam cinta.



PERTEMUAN
(Alin MS)

Hari ini kita bertemu lagi
saling menatap, saling bicara dan saling mengungkapkan rasa
ada gelora yang tidak bisa kita bayangkan
yang berbeda dari hari-hari sebelumnya
gelora cinta yang semakin menyala membakar dalam dada.

Dari sekian banyak pertemuan kita
ini saat yang paling mesra kurasa
karen hari ini aku menerima sebuah hadiah indah
dari hatimu yang sangat mencintai aku.

Takan kulupakan pertemuan ini
akan kutulis dengan tintah emas di bingkai hati
akan kukirim kebahagiaan ini bersama angin lembut
kesuluruh penjuru dunia
aku khabarkan bahwa aku begitu bahagia
melepas rindu bertemu dengan nya।



Cintaku Jauh di Pulau
(Chairil Anwar)

Cintaku jauh di pulau
gadis manis sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
Angin membatu, laut tenang, tetapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya'.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
'Tunjukan perahu ke pangkuan saja.'

Amboy! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.



Cempaka
(Amir Hamzah)

Cempaka, aduhai bunga penglipur lara
Tempat cinta duduk bersemayam
Sampaikan pelukku, wahai kusuma
Pada adinda setiap malam.

Sungguh harum sedap malam
Sungguh pelik bunga kamboja
Tetapi tuan, aduhai pualam
Pakaian adinda setiap masa.

Sungguh tak kelihatan ia berbunga
Cempaka tersembunyi dalam sanggul
Tapi harumnya, aduhai kelana
Di dalam rambut duduk tersimpul.

Amat bersahaja cempaka bunga
Putih arona, hijau nen tampuk
Pantas benar suntingan adinda
Telebih pula di sanggul duduk.

0 komentar:

Posting Komentar


Diberdayakan oleh Blogger.